Artikel

GURU HAJI ISMAIL MUNDU
TOKOH PENDIDIK KERAJAAN KUBU
Baidhillah Riyadhi

Pendahuluan
Sebelum abad XVI, kerajaan-kerajaan yang berdiri di Nusantara mayoritas menganut agama Hindu dan Budha, bahkan ada yang menganut aliran kepercayaan. Baru setelah abad ke XVI bersamaan dengan runtuhnya kerajaan besar seperti kerajaan Majapahit dan kerajaan Brawijaya, maka nampaklah syi‟ar Islam, hal ini dapat dilihat dari munculnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, khususnya di Kalimantan Barat, semua kerajaan yang berkuasa pada abad ke XVI bernafaskan pada agama Islam. Menurut Samuel Bryan Scott, salah satu faktor masuknya Islam ke daerah Kalimantan adalah faktor ekonomi Argumen ini sangat umum digunakan untuk menjelaskan proses Islamisasi, tidak hanya saja di Indonesia tetapi juga di manca negara, seperti di Afrika Barat. Kenyataan ini merupakan manifestasi dari keberhasilan para juru da‟wah Islam (da‟i) dalam menyebar luaskan ajaran Islam di Kalimantan Barat.
Kalimantan Barat terdapat dua kelompok budaya yang besar, yaitu kelompok budaya Melayu dan kelompok budaya Dayak. Kedua suku tersebut merupakan penduduk asal. Kebudayaan masyarakat suku Melayu banyak terpengaruh oleh agama Islam yang disebarluaskan melalui para muballigh dan para juru da‟wah Islam yang bersentral pada kerajaan-kerajaan Islam yang pernah tumbuh dan berkembang di Kalimantan Barat. Adapun penyebar agama Islam yang berasal dari Timur Tengah lazim dikenal dengan nama penghormatan: Syarif atau Syekh. Sebutan sehari-hari bagi kaum elit agama di suatu daerah dengan daerah yang lain cukup bervariasi dan beragam, di antaranya ada yang menyebut “kyai”, “ulama”, “syekh”, “tuan Guru” dan lain lain.
Menurut J.U. Lontaan, penduduk yang berdomisili di Kalimantan Barat dapat dibedakan kedalam dua kelompok, yaitu: pertama penduduk asal yang terdiri dari dua suku, yaitu suku Dayak dan suku Melayu, kedua penduduk pendatang, yang terdiri dari beberapa macam suku, seperti: suku Arab, suku Cina, suku Bugis, suku Jawa, suku Madura, suku Batak dan lain-lain.
Di Kalimantan Barat pernah berdiri beberapa kerajaan Islam, walaupun sebagian besar dari kerajaan-kerajaan Islam tersebut pada awalnya bukan merupakan kerajaan yang bernafaskan Islam, seperti halnya yang dialami oleh kerajaan Tanjungpura, kerajaan Sukadana, kerajaan Simpang, kerajaan Mempawah, kerajaan Sambas, kerajaan Landak, kerajaan Tayan, kerajaan Meliau, kerajaan Sanggau, kerajaan Sekadau, dan kerajaan Sintang. Adapun kerajaan Kubu dan kerajaan Pontianak, sejak awal berdirinya merupakan kerajaan Islam. Sayangnya beberapa peninggalan dari beberapa kerajaan yang berharga tersebut, kurang mendapatkan perhatian sehingga terkesan terlupakan. Bahkan ada beberapa kerajaan yang sudah tidak memiliki keraton lagi, seperti halnya nasib yang dialami oleh kerajaan Kubu.
Kenyataan ini dapat dimungkinkan kerena tergeser oleh budaya modern sebab terjadinya westernisasi yang tidak dapat terfilter lagi, di samping lamanya perputaran waktu. Kondisi seperti ini menuntut kepada ahli waris, para sejarawan, pemerintah dan kalangan akademika serta masyarakat pada umumnya untuk dapat bekerja sama dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai luhur yang telah dihadirkan dan diajarkan oleh para leluhur, khususnya dari ulama salafus shaleh yang telah berusaha mewariskan tentang ilmu-ilmu kebenaran.
Pada umumnya, setiap kerajaan Islam memiliki staf kerajaan yang bertugas untuk memberikan fatwa dan penjelasan tentang berbagai masalah yang berkaitan dengan ajaran agama Islam. Seseorang yang diberi kepercayaan (amanah) untuk memberikan fatwa dikenal dengan jabatan Mufti. Perkembangan Islam di Kubu tidak dapat dilepaskan dengan sejarah berdirinya kerajaan Kubu, dengan kata lain bahwa perkembangan Islam di Kubu memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kerajaan Kubu. Sebab mulai dari awal berdirinya kerajaan Kubu, telah dilatar belakangi oleh da‟wah Islamiyah.
Dengan demikian terdapat perbedaan latar belakang berdirinya kerajaan Islam Kubu dengan latar belakang berdirinya kerajaan-kerajaan Islam lainnya, seperti halnya kerajaan Islam Sambas dan Kerajaan Islam Tanjungpura, karena kedua kerajaan Islam yang disebut terakhir pada asalnya bukanlah kerajaan yang bernafaskan Islam, kerajaan Sambas didirikan oleh Ratu Sepudak, sedangkan kerajaan Tanjungpura didirikan oleh Prabu Jaya, yang mana keduanya adalah keturunan Raja-Raja Majapahit.

Tokoh Pendidik (Mufti)
Di dalam sebuah stuktur kerajaan Islam sering kita jumpai adanya jabatan kemuftian, yang secara langsung dipilih oleh seorang sultan atau Raja. Dengan demikian keberadaan seorang mufti kerajaan, memiliki peranan yang besar bagi Raja dan rakyat. Karena mufti adalah sumber tempat untuk mengadukan berbagai masalah yang berkaitan dengan ajaran agama Islam. Walaupun tak jarang para sultan menguasai bidang agama Islam, sehingga fatwa diberikan langsung oleh seorang sultan.
Penelitian yang berkaitan dengan kerajaan telah banyak dilakukan oleh para ilmuwan dan sejarawan, seperti halnya yang dilakukan oleh J.U. Lontaan(1975) secara umum telah berhasil menulis sejarah kerajaan – kerajaan dan adat istiadat yang pernah berlaku di Kalimantan Barat, sedangkan Syafaruddin Usman telah berhasil menulis tentang sejarah kerajaan Landak (Syafaruddin Usman: 2000), sementara itu Hasanuddin, Bambang Hendarta Suta Purwana dan Pembayu Sulistyorini(2000) telah berhasil menulis sebuah buku yang berjudul: Pontianak (Suatu Tinjauan Sejarah Sosial Ekonomi), sedangkan Listyawati Nurcahyani(1997) telah melakukan pendataan kerajaan Kubu.
Melalui pendataan tersebut dan tarikh kerajaan Koeboe yang ditulis oleh Syarif Saleh (Raja Kubu yang ke delapan) penulis sedikit banyak mendapatkan informasi tentang kerajaan Kubu yang mana secara ringkas juga telah disinggung oleh J.U. Lontaan. Dari beberapa tulisan tersebut, tidak mengungkap peran Guru Haji Ismail Mundu sebagai tokoh pendidik dan mufti kerajaan Kubu. Hal ini dapat dipahami sebab masalah tersebut bukan merupakan fokus bahasan mereka.
Berkaitan tentang mufti kerajaan Kubu, untuk sementara ini, penulis baru menemukan sebuah makalah tentang Riwayat Guru Besar H. Ismail Mundu yang ditulis oleh H. Riva‟I bin H. Abbas.
Pada tanggal 11 Pebruari 1984 makalah tersebut ditandatangani oleh H. Ibrahim Basyir selaku murid yang dekat dari Guru H. Ismail Mundu dan sebagai pengesahan ditandatangani pula oleh Ustadz H. Abdurrani Mahmud yang mana pada saat itu menjabat sebagai ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Barat.

Sejarah Guru Haji Ismail Mundu
Apabila kita mengkaji sejarah para „alim Ulama yang ada di Indonesia pada umumnya dan yang ada di propinsi Kalimantan Barat pada khususnya, maka di tengah-tengah masyarakat muslim, kita akan menemukan beberapa nama yang sampai saat ini masih harum dan terhormat. Di antara nama-nama tersebut adalah MahaRaja Imam Basuni Imran, Syekh Khatib al Sambasi, Syekh H. Ismail Mundu. dll. Penghormatan tersebut diperoleh karena mereka memiliki kepribadian yang mulia dan keilmuan yang tinggi, khususnya di bidang Agama Islam.
H. Ismail Mundu berasal dari keturunan Raja Sawitto di Sulawesi Selatan. Kerajaan pertama yang berdiri di Sulawesi Selatan pada awal abat ke 14 adalah kerajaan “Luwu” yang mana sebelumnya bernama kerajaan “Ussu” yang diperintah oleh Dinasti Tamanurung Simpuru Siang. pada abad ke XVI dapat dikatakan sebagai abad penyebaran Agama Islam. Sebab pada saat itu terkenal salah seorang Raja yang giat menyebarkan agama Islam, beliau adalah Sultan Babullah dari Ternate. Tepatnya pada tahun 1580 beliau berkunjung ke Makassar dan kemudian membuat suatu perjanjian persahabatan dengan Raja Gowa ke XII yang bernama I Manggorai Daeng Mameto alias KaraEng Tunijalla. Dalam perjanjian tersebut, Sultan Babullah menyerahkan pulau Selayar kepada kerajaan Gowa sebagai imbalan adanya jaminan kebebasan dalam menyiarkan agama Islam. Di Kerajaan Gowa, Islam menjadi agama resmi sejak masa pemerintahan I Mangarangi Daeng Manrabia, yang kemudian bergelar Sultan Alauddin. Sebelumnya, Mangku Bumi Malingkang Daeng Manyanri juga memeluk agama Islam dengan gelar Sultan Abdullah Awalul Islam, beliau diangkat sebagai mangku bumi kerajaan Gowa, sebab ketika dinobatkan sebagai Raja Gowa, Sultan Alaudin masih berusia 7 (tujuh) tahun.(lihat: Nasruddin Hars., dkk.,1994: hlm.14). Menurut Ust.H. Riva‟I bin H. Abbas, dari kerajaan Islam tersebut, lahirlah Raja Sawitto yang merupakan nenek moyang dari Guru H.Ismail Mundu.
Guru Haji Ismail Mundu lahir pada tahun 1287 H. bertepatan dengan tahun 1870 M. dari pernikahan seorang Mursyid Thariqah Abdul Qadir Jailani yang berasal dari Bugis dengan seorang putri yang bernama Zahra (wak Soro) berasal dari daerah Kakap Kalimantan Barat. Adapun ayah beliau bernama Daeng (gelar yang diberikan kepada kaum bangsawan suku Bugis) Abdul Karim alias Daeng Talengka bin Daeng Palewo Arunge Lamongkona bin Arunge Kacenang Appalewo bin Arunge Betteng Wajo‟ Sulawesi Selatan keturunan Maduk Kelleng. Dengan demikian, Beliau masih memiliki keturunan(nasab) salah seorang Raja pada suatu kerajaan di Sulawesi Selatan. Walaupun demikian, H. Ismail Mundu lebih banyak berkiprah di Kalimantan Barat dari pada di tempat leluhur beliau yakni Sulawesi Selatan.
Merujuk pada informasi yang disampaikan oleh Wan Mohd. Shaghir Abdullah (seorang penulis sejarah asal Malaysia). Pada saat Guru Haji Ismail Mundu diberi amanah menjabat sebagai seorang Mufti Kerajaan Kubu, dalam waktu yang bersamaan dikenal ada tiga orang ulama di Kalimantan Barat yang bernama Ismail. Ketiga orang yang kami maksud: 1) Ismail bin Abdul Karim, yang lebih dikenal dengan Ismail Mundu. 2) Ismail bin Haji Abdul Majid al-Kalantani, yang lebih dikenal dengan Ismail Kelantan. Beliau menjabat sebagai Mufti kerajaan Pontianak, dan 3) Ismail bin Abdul Latif, yang lebih dikenali dengan Ismail Jabal. Beliau menjabat sebagai Adviseur penasehat Rad Agama Kerajaan Pontianak. Ust. Haji Riva‟I menambahkan bahwa selain ketiga nama Ismail tersebut, juga dikenal seorang nama Ismail yang „alim tetapi kurang dikenal oleh kalangan Kerajaan. Beliau adalah Ismail Bone, seorang Ulama yang berda‟wah di daerah Kakap.
Menurut sejarah dalam naskah “Hikayat Upu Daeng Manambun”, diceritakan bahwa orang-orang Bugis pertama kali berkelana ke tanah Melayu sekitar pada abad ke XVI (enam belas). Pada abad ke XVI kelima anak Raja Bugis yakni Daeng Rilaga berangkat dari tanah Makasar menuju ke negeri-negeri tanah Melayu yaitu Johor, Pahang, Selangor dan Kedah serta Kalimantan Barat. Kelima putra tersebut : Upu Daeng Perani, Upu Daeng Manambun, Upu Daeng Merewah, Upu Daeng Chelak dan Upu Daeng Kemasi. Adapun Upu Daeng Menambun pada akhirnya berhasil merajai kerajaan Mempawah di Kalimantan Barat, sedangkan Daeng Perani berhasil berjaya menguasai kerajaan Johor di Malaysia pada tahun 1722 M.
Pada masa kecil, H. Ismail Mundu lebih dikenal dengan nama Mundu. Sejak kecil, pada kepribadian Mundu telah tanpak sebagai anak yang taat dalam mengamalkan ajaran Agama Islam. Pada awalnya sekitar umur 7 tahun beliau belajar kepada pamannya sendiri (adik dari Ibunya) yang bernama H. Muhammad bin H. Ali, dengan kecerdasannya, dalam jangka waktu tujuh bulan Mundu berhasil mengkhatamkan Al-Qur‟an dengan sempurna. Selanjutnya Syekh Abdul Karim (Ayahanda Mundu) mengutus Mundu untuk belajar ilmu agama kepada seorang „Ulama besar di masanya yang bernama H. Abdullah Ibnu Salam, yang dikenal juga dengan nama H. Abdullah Bilawa. Beliau memiliki gelar „Ulama Batu Penguji yang berdomisili di Desa Sungai Kakap Kabupaten Pontianak. Setelah H. Abdullah Ibnu Salam berpulang ke Rahmatullah, maka Mundu melanjutkan belajar agama kepada seorang „Ulama yang bernama Sayyed Abdullah Azzawawi. Beliau adalah seorang Mufti di Makkatul Mukarramah. Di samping itu, Mundu juga belajar kepada dua orang Guru yang bernama Tuan Umar Sumbawa dan Maakbro alias Puang Lompo. Makabro adalah salah seorang „ulama yang berasal dari suku Bogis, dari beliau Guru H.Ismail Mundu banyak belajar tentang menghafal kitab-kitab yang menjelaskan tentang ilmu-ilmu agama Islam.
Sekitar usia 20 tahun Mundu menunaikan ibadah H. yang pertama kalinya. Pada saat itu, masih belum menikah, oleh sebab itu beliau mengakhiri masa lajangnya di Makkah, dengan menikahi seorang wanita yang berasal dari suku Habsyi yang bernama Ruzlan. Sebagaimana galibnya, salah satu tujuan diselenggarakannya pernikahan adalah untuk mendapatkan keturunan, tetapi dalam kenyataannya keinginan tersebut tidak selamanya dapat terwujud, sebagaimana yang dialami oleh H. Mundu. Setelah berselang beberapa waktu hidup bersama membangun keluarga yang Sakinah, ternyata sang istri tercinta telah berpulang ke Rahmatullah, sebelum dikarunia seorang putra. Oleh sebab itu, tidak lama kemudian Mundu kembali menikah yang ke dua kalinya dengan seorang wanita yang berasal dari pulau Sarasan bernama Hj. Aisyah.
Kemudian Mundu kembali ke Indonesia, sejak itulah beliau lebih dikenal dengan nama H. Ismail Mundu. Seperti halnya pernikahan yang pertama, Allah Swt menguji kesabaran H. Ismail Mundu, yang mana baru saja membina keluarga dengan Hj. Aisyah, ternyata istri yang tercinta segera dipanggil untuk kembali ke Rahmatullah, padahal pada saat itu beliau belum dikaruniai seorang putra, demikianlah kehendak Allah Swt. Setelah meninggalnya Hj. Aisyah, maka H. Ismail Mundu kembali ke desa Sungai Kakap Pontianak, di sanalah beliau menikah yang ke tiga kalinya
dengan seorang wanita yang masih memiliki ikatan saudara dengan beliau (sepupu) yang bernama Hafifa binti H. Sema‟ila. Dari pernikahan tersebut barulah H. Ismail dikaruniai tiga orang anak, dua orang anak laki-laki yang bernama Ambo‟ Saro alias Openg dan Ambo‟ Sulo serta seorang anak perempuan yang bernama Fatma. Sayangnya tidak lama setelah kelahiran putra yang ke tiga, Hafifa binti H. Sema‟ila meninggal dunia. Begitu pula dengan putra-putri H. Ismail Mundu meninggal dunia pada usia yang relatif muda, sehingga dapat dikatakan bahwa beliau tidak memiliki keturunan (dzuriyah). Dengan meninggalnya Hafifa berarti H. Ismail Mundu dalam keadaan duda. Hal ini tidak dikehendaki oleh H. Ismail Mundu, oleh sebab itu H. Ismail Mundu kembali menikah yang keempat kalinya dengan seorang wanita yang berkebangsaan Arab suku Natto yang bernama Hj. Asmah binti Sayyid Abdul Kadir. Bersama dengan Hj. Asmah, H. Ismail Mundu menunaikan Ibadah H. yang ke dua kalinya. Di samping menunaikan ibadah H., beliau juga menuntut ilmu kepada seorang Mufti Makkah al Mukarramah yang bernama Saeyed Abdullah Azzawawi.
Setelah dianggap menguasai ilmu yang cukup, maka pada tahun 1904 M/1324H H. Ismail kembali ke Indonesia (turun ke jawi), kemudian berdomisili di desa Teluk Pakedai yang termasuk dalam wilayah kerajaan Kubu Pontianak Kalimantan Barat. Disanalah beliau terpanggil untuk mengamalkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang telah beliau terima dan kuasai. Sebagai seorang yang „alim dan wara‟ segala sesuatu yang diupayakan senantiasa memiliki keterkaitan dengan syi‟ar Islam dan menegakkan kebenaran serta menumpas kebatilan yang pada saat itu mulai meRajalela. Tak jarang terjadi saling bunuh- membunuh baik di antara sesama muslim, maupun dengan non muslim. Padahal hanya disebabkan oleh persoalan yang sebenarnya sepele dan tidak perlu dibesar-besarkan. Sehingga seakan-akan nilai perdamaian yang diajarkan oleh setiap agama sudah tidak diindahkan lagi. Situasi seperti ini di antaranya merupakan suatu akibat dari kurangnya pemahaman terhadap ilmu agama dan nilai-nilai kemanusiaan.
Menurut keterangan dari salah seorang murid dari Guru H. Ismail Mundu yang bernama H. Arsyad, sebelum kedatangan Syech H. Ismail Mundu di Teluk Pakedai, sudah menjadi tradisi dalam masyarakat bahwa setiap tamu yang datang ke daerah Teluk Pakedai akan diuji dulu ketinggian keilmuannya melalui suatu perkelahian, apabila sang tamu kalah maka ia tidak diperkenankan tinggal di Teluk Pakedai, bahkan terkadang dibunuh di medan pengujian, medan tersebut dikenal dengan nama Tanjung Salai. Menurut bahasa setempat, Salai artinya adalah panggang, yang mana biasanya, orang yang kalah/terbunuh di medan pengujian akan dipanggang jasadnya, tradisi tersebut dilakukan oleh orang Dayak Laut. Tetapi apabila sang tamu menang dalam pengujian karena memiliki ilmu yang tinggi, maka tamu tersebut mendapat penghormatan yang tinggi pula dari masyarakat dan dipersilahkan untuk dapat tinggal di Teluk Pakedai, bahkan dianggap sebagai seorang guru yang layak untuk ditimba ilmunya.
Berkaitan dengan ketinggian Ilmu Guru Haji Ismail Mundu, terdapat suatu kisah nyata, bahwa pada suatu hari setelah Sholat Subuh Guru Haji Ismail Mundu jalan-jalan, di tengah-tengah perjalanan beliau dihadang oleh lima orang yang bersenjata, pada saat itu Guru Haji Ismail Mundu masih berusia lebih kurang 25 tahun, sementara pembegal rata-rata berusia 40 th. Yang sudah cukup berpengalaman dalam hal pembegalan. Kelima orang tersebut mempersilakan Guru Haji Ismail untuk menggunanakan segala senjata yang dimiliki. Dengan penuh wibawa beliau mengatakan bahwa kehadirannya ke Teluk Pakedai bukan untuk mencari musuh, tetapi kehadiran beliau adalah untuk menyebarkan kebenaran. Ternyata jawaban Guru Haji Ismail tidak menyurutkan keinginan para pembegal untuk melaksanakan aksi pengujian. Oleh sebab itu, sebelum pertikaian dimulai, Guru Haji Ismail menyuruh mereka untuk menjabut ranggas kelapa yang tertanam sebagian. Ternyata kelima orang tersebut tidak ada yang mampu melaksanakannya, oleh sebab itu Guru Haji Ismail menasehati agar mereka tidak sombong. Selanjutnya, dengan membaca basmalah tanpa mengalami kesulitan Guru Haji Ismail berhasil menjabut ranggas kelapa, sementara itu mandau yang dimiliki oleh kelima orang tersebut satu dibengkongkan oleh beliau, seraya mengatakan bahwa mandau saja bisa sujud kepada Allah Swt., bagaimana dengan kalian? Sejak peristiwa tersebut, mereka menyatakan bertaubat dan mengakui ketinggian ilmu Syach H.Ismail Mundu. Berkat Rahmat Allah yang menghadirkan Guru Haji Ismail Mundu di Teluk Pakedai, maka wajah situasi daerah tersebut sedikit demi sedikit semakin membaik, sehingga masyarakat dapat kembali pada jalan yang lurus dan meninggalkan kejahilan yang mana pada saat itu melanda masyarakat. Keberhasilan Guru Haji Ismail Mundu dalam mengentas masyarakat Kubu dari kejahilan, mendapat simpati dari Raja Kubu, sehingga pada tahun 1907 M (1326H) Guru Haji Ismail Mundu mendapat kepercayaan dari pemerintah Kerajaan Kubu untuk memegang jabatan Mufti kerajaan Kubu. Dengan jabatan tersebut, maka Guru Haji Ismail menjadi tumpuan tempat untuk bertanya tentang masalah-masalah agama yang datang dari berbagai kalangan baik dari kalangan kerajaan maupun dari kalangan masyarakat luas, khususnya berbagai masalah yang berkaitan dengan problem yang dihadapi oleh kaum Muslimin. Semua permasalahan yang diajukan kepada beliau, diupayakan dapat diputuskan dengan penuh bijaksana (hikmah) dan nasehat yang baik (mauidzah hasanah). Atas segala kemampuan dan kharisma serta besarnya pengaruh yang dimiliki oleh Guru Haji Ismail Mundu, maka pada tanggal 31 Agustus 1930 M (1349 H) beliau mendapat penghargaan dari pemerintahan Belanda berupa bintang jasa dan Honorrarium dari Ratu Wihel Mina. Jabatan Mufti disandang oleh Guru Haji Ismail Mundu sampai beliau kembali menunaikan ibadah Haji yang ketiga kalinya.
Pada tanggal 4 Dzulhijjah 1345 H (1926 M) Guru Haji Ismail bersama dengan seorang murid dan sekaligus menjadi teman karibnya yang bernama Datuk Penghulu H. Haruna bin H. Ismail, beliau berasal dari Desa Batu Pahat Johor Malaya, untuk membangun masjid Batu. Menurut keterangan dari salah seorang cucu H.Haruna yakni H.Harun al Rasyid, bahwa H.Haruna adalah putra Bugis yang sudah lama tinggal di Malaya yang mana pada saat ini lebih dikenal dengan negara Malaysia. Sebutan Haruna berasal dari lafadz Harun, karena bahasa Bugis tidak mengenal lafadz yang diakhiri oleh huruf mati, maka lafadz Harun menjadi lafadz Haruna bahkan kadang bisa disingkat lagi menjadi Runa.
Partisipasi dan pengorbanan harta dan jiwa (amwal wal anfus) Datuk Penghulu sangat besar jasanya dalam keberhasilan pembangunan Masjid Batu. Pada rencana awal, Masjid Batu dibangun tidak mempergunakan bahan dari kayu, yaitu hanya menggunakan bahan dari batu bata, oleh sebab itu dikenal dengan masjid Batu, adapun nama masjid yang sebenarnya adalah masjid Nasrullah yang baru mulai difungsikan sebagai tempat untuk shalat Jum‟at pada tahun 1929M (1348H). (Hasil wawancara dengan H. Riva‟I pada tanggal 11 Pebruari 2002yang mana diharapkan menjadi amal jariyah).
Pada tahun 1930 M\1349 H Guru H. Ismail Mundu dikunjungi oleh dua orang „Ulama yang berasal dari kota Madinah, yakni: Sayyid Nasir dan Sayyid Abdul Satar. Beliau adalah seorang Imam Masjid Madinah yang hafal kitab suci al-Qur‟an dan pernah belajar bersama Guru H.Ismail Mundu. Mereka berkunjung ke Teluk Pakedai kurang lebih selama tiga bulan, disaat bertepatan dengan bulan Ramadhan, maka Sayyid Abdul Satar mendapat penghormatan untuk menjadi Imam shalat Taraweh. Dalam shalat tersebut, beliau berhasil mengkhatamkan kitab suci Al-Qur‟an sebanyak dua kali khataman pada setiap bulan Ramadhan. Setelah genap tiga bulan, mereka kembali ke kota Madinah. Berselang beberapa lama kemudian Guru H. Ismail dikunjungi lagi tiga orang ulama besar yang bernama:
1. Saiyed Hasan Japri yaitu seorang Mufti Hadral Maut (Hadrami).
2. Saiyed Alwi yaitu seorang Ulama dari Kota Yaman.
3. Saiyed Achmad Jablawi yaitu seorang Ulama dari kota Mesir.
Pada tahun 1937 M (1356 H) Guru H. Ismail berangkat lagi ke tanah suci Makkah bersama keluarganya untuk menunaikan ibadah Haji yang ketiga kalinya dan disamping itu beliau mengajar pula di Masjidil Haram bagian sebelah Shapah dengan nama perkumpulan JAMI‟UT THANASUH, sedang di sebelah Marwah diasuh oleh Guru H. Ja‟far.
Pada waktu Presiden Republik Indonesia yang pertama yakni Ir. Soekarno menunaikan ibadah Haji, disana beliau disambut oleh Guru H. Ismail bersama Saiyed Ali Azzawawi bin Saiyed Abdullah Azzawawi dan Raja Makkah serta menemani wukuf di Padang Arafah. Dalam kesempatan tersebut, Sultan Hamid II menceritakan kepada Guru H. Ismail bahwa keluarga dan murid-murid beliau di Pontianak sangat rindu, bahkan ada yang mengira bahwa beliau sudah meninggal dunia dan membacakan do‟a arwah. Dengan adanya berita dari Sultan Hamid II itulah maka pada tahun 1367 H (1948 M) Guru H. Ismail pulang ke Indonesia dengan menggunakan kapal air. Para penumpang kapal air itu yang berjumlah 1.500 orang mengaku murid Guru H. Ismail, sehingga mereka semuanya itu dibebaskan dari biaya kapal, atas nama Guru H. Ismail semua biaya ditanggung oleh Ratu Wilhel Mina.
Selanjutnya beliau meneruskan perjalanannya pulang ke kota Pontianak, Kalimantan Barat dan setelah di Pontianak, beliau disambut oleh murid-muridnya yang ada di Pontianak dengan sangat gembira dan mencucurkan air mata melihat beliau rupanya masih hidup dan segar bugar, seolah-olah mereka bermimpi melihat kenyataan ini. Akhirnya beliau meneruskan perjalanannya ke desa Teluk Pakedai; dua tahun kemudian beliau menikah lagi dengan seorang wanita yang bernama Saleha binti H. Muhammad Said (suku Bugis). Di desa Teluk Pakedai beliau menetap sampai berpulang ke Rahmatullah.
Pada tanggal 30 Jumadil Awal 1377H. (1957 M) kesehatan Guru H. Ismail mulai menurun, sedang rumah beliau belum rampung diperbaharui dan untuk sementara beliau menginap di kantornya di samping Masjid Batu(Nasrullah), pada tanggal 11 Jumadil Akhir 1377 H. Beliau memanggil beberapa orang muridnya diantaranya Husin H. Akhmad, H. Abbas bin H. Supu‟, Muhammad Saleh, H. Ya‟kob dan murid-murid yang lain. Keadaan meliputi suasana tegang dan kesedihan memuncak sampailah saatnya beliau menghembuskan napas yang terakhir dengan melafatkan kalimah: “Laa ilaha’ illallah”, pada hari Kamis Jam : 10.00 Wita, “Inna lillahi wainna ilairi raji‟un” sesungguhnya segala sesuatu milik Allah dan pada saatnya akan kembali pada Allah SWT. Guru Haji Ismail Mundu meninggalkan dunia yang fana(rusak)ini menuju ke alam baqa(kekal), dalam keadaan husnul khatimah karena dapat mengakhiri hayatnya dengan kalimah Thoyyibah berjalan dengan tenang dan sempurna menurut ajaran Islam. Mudah-mudahan Beliau dan murid-murid Beliau mendapat tempat yang baik di sisi Allah SWT .

Karya Ilmiyah Guru Haji Ismail Mundu
Guru H.Ismail Mundu adalah salah seorang yang „alim dalam ilmu agama Islam, hal ini dapat diketahui dari beberapa hasil karya ilmiyah beliau yang telah dituangkan dalam bentuk kitab dari berbagai disiplin ilmu keagamaan, seperti Tafsir al Qur‟an, Aqidah maupun Syari‟ah.
Adapun karya beliau yang sementara ini penulis ketahui :
1. Tafsir kitab suci Al-Qur‟an terjemahan bahasa Bugis.
Dalam kitab ini, Guru H. Ismail Mundu berusaha mengartikan dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur‟an. sesuai dengan makna ayat yang terkandung, kemudian disampaikan kepada masyarakat sesuai dengan situasi dan kondisi yang mereka hadapi. Karena banyak orang yang berada di sekitar Guru Haji adalah Suku Bugis yang paham dengan bahasa Bugis, maka diterjemahkannyalah Al-Qur‟an dengan bahasa Bugis. Beliau faham terhadap keuniversalan syari‟at Islam dalam Al-Qur‟an yang merupakan pedoman hidup yang abadi bagi umat Islam.
2. Usul Tahqiq,
Dalam kitab ini, Guru Haji Ismail Mundu menjelaskan tentang pentingnya kedudukan „aqidah Islam, yang merupakan pondasi bagi setiap orang yang telah bersaksi meyakini dengan sebenarnya bahwa dirinya adalah seorang muslim. Guru Haji Ismail Mundu menganjurkan umat Islam agar senantiasa mengesakan Allah SWT (Tauhid). Dalam situasi dan kondisi apapun.

3. Mukhtsarul Manan,
Kitab ini merupakan ringkasan dari kitab Tauhid. Didalamnya Guru Haji Ismail menjelaskan kewajiban umat Islam untuk mengenal Allah SWT(ma‟rifatullah) melalui sifat-sifat yang dimilikiNya. Baik sifat wajib bagi Allah, yang berjumlah 20(duapuluh), sifat-sifat mustahil bagi Allah, maupun sifat jaiz bagi Allah SWT.
4. Jadwal Nikah, yang disahkan oleh Mufti Johor Malaya (Malaysia) tahun 1358 H.
Kitab ini menjelaskan tentang hukum nikah, tata cara nikah dan berbagai hal yang berkaitan dengan masalah nikah. Pada masanya, kitab Jadwak Nikah menjadi rujukan(referensi) bagi para Penghulu dalam melaksanakan tugas pada acara pernikahan.
5. Majmu‟ul mirasa,
Kitab ini menjelaskan tentang masalah pembagian harta waris menurut madzhab Syafi‟iyah(ilmu Faraid).
6. Konsep Khutbah bulan Safar dan konsen Khutbah bulan Jumadil akhir.
Konsep tersebut, masih asli tulisan tangan Guru H. Ismail Mundu yang belum dicetak, konsep khutbah di bulan Jumadil Akhir terdiri dari empat puluh tiga (43) halaman sedangkan konsep khutbah di bulan Safar terdiri dari empat puluh satu (41) halaman.
Adapun sistem penulisan khutbah menggunakan sistem terjemah, yakni diawali dengan penulisan bahasa Arab kemudian diiringi dengan terjemahannya bahasa Melayu atau terkadang menggunakan bahasa Bugis. Dalam khutbah di bulan Jumadil akhir, berisikan tentang nasehat untuk berbakti kepada kedua orang tua dan nasehat agar menjauhi perbuatan zina, berjudi dan minum minuman keras. Sedangkan dalam khutbah di bulan Safar berisi tentang tasawuf yakni nasehat-nasehat agar dapat membersihkan diri dari keindahan dunia, karena nikmat dunia bagi Allah S.w.t. sangat kecil sekali.
7. Kitab Zikir Tauhidiyah.
Kitab ini terdiri dari sembilan belas (19) halaman, yang merupakan kitab ijazah dari Guru H. Ismail Mundu dan berlaku bagi kalangan sendiri, oleh sebab itu tidak disebar luaskan secara umum, sehingga tidak semua kaum Muslimin dapat mengamalkan Dzikir Tauhidiyah tersebut sebelum mendapatkan ijazah pada tahun 1383 H/ 1954 M. Dengan demikian hanya orang-orang tertentu saja yang dapat mengamalkan dzikir tersebut, yakni bagi orang yang telah mendapatkan ijazah saja dari Guru H. Ismail Mundu. Pada awalnya kitab tersebut merupakan tulisan tangan Guru H. Ismail Mundu, tetapi kemudian cetakkan oleh Muhammad bin Yahya Alwy.
8. Faidah Istighfar Rajab
Kitab ini terdiri dari delapan belas (18) halaman yang diterbitkan di Pontianak pada tahun 1417. Kitab tersebut menjelaskan tentang tuntunan bagi kaum muslimin untuk membaca Istighfar sebagai salah satu wujud dari pengakuan diri atas segala dosa yang dilakukan oleh setiap manusia, karena pada dasarnya manusia tidak dapat terhindar dari perbuatan dosa. Guru H. Ismail Mundu menganjurkan agar umat Islam dapat mewiridkan “Istighfar Rajab” pada setiap hari, baik di siang hari maupun di malam hari.

Guru Haji Ismail Mundu Sebagai Mufti Kerajaan Kubu
Walaupun para „ulama salafus shaleh mengakui ketinggian dan kemulyaan martabat mufti dan pengaruhnya yang besar bagi umat Islam, tatapi mereka sangat berhati-hati dan terkesan takut untuk banyak mengeluarkan fatwa. Kenyataan ini karena mereka menyadari bahwa banyak orang yang akan mengikuti fatwa yang mereka keluarkan. Sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat dekat Nabi Muhammad saw, yakni Khulafa al Rasyidin, apabila mereka merasakan kesulitan untuk menjawab suatu permasalahan, maka tak jarang mereka mengadakan musyawarah guna menemukan solusinya. Dari hasil musyawarah tersebut, maka muncullah istilah fatwa jumhur „ulama (ijma‟). Bagi para mufti dituntut untuk memiliki sifat kehati-hatian yang tinggi dan mampu berijtihad dalam menetapkan suatu hukum sebagai landasan dalam memberikan fatwa, karena secara kualitas seorang mufti dapat digolongkan sebagai mujtahid fatwa.
Kerajaan Kubu didirikan oleh para pedagang perantau yang berasal dari Hadramaut yang dipimpin oleh seorang yang wara‟ dan „alim dibidang agama Islam bernama Syarif Idrus. Adapun nama Kubu berasal dari bahasa Melayu yang artinya Benteng, yang mana kerajaan tersebut dibangun berupa pagar kayu yang bentuknya menyerupai sebuah benteng yang dikenal dengan istilah Kubu. Sentral kekuasaan kerajaan Kubu terletak di pinggir Muara Sungai Kapuas Besar. Sejak berdirinya kerajaan Kubu yaitu pada tahun 1725 M sampai dengan keruntuhannya yaitu pada tahun 1950 M. Kerajaan Kubu diperintah oleh sepuluh orang Raja. Kesepuluh Raja tersebut: 1. Raja Syarif Idrus (1780-1789), 2. Raja Syarif Muhammad (1789-1829), 3.Raja Syarif Abdurrahman (1829 – 1841), 4. Raja Syarif Ismail (1841 – 1864), 5. Raja Syarif Hasan (1866 – 1900), 6. Raja Syarif Abbas (1900 – 1911), 7. Raja Syarif Zin (1911 – 1912), 8. Raja Syarif Saleh (1919 – 1944), 9. Raja Syarif Yusuf (1944 – 1949), 10. Raja Syarif Hasan (1949 – 1950).
Pada saat kerajaan diperintah oleh Syarif Abbas (1900 – 1911), yaitu Raja yang ke enam, tepatnya pada tahun 1907, Syarif Abbas mengangkat Guru Haji Ismail Mundu seorang Mufti Kerajaan Kubu. Setelah Kerajaan Kubu berakhir dan kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI) Pada tahun 1951 M., Wedana Kubu yang pertama yakni Gusti Jalma mengadakan pemilihan untuk menduduki jabatan Hakim. Maka muncullah beberapa nama Ulama, di antaranya, adalah Syekh H.Ismail Mundu, H. Mukhlis Badri dan H.Husin al Habsy. setelah diadakan penyeleksian, dengan memperhatikan beberapa persyaratan sebagai seorang Hakim, maka ternyata Wedana Kubu Pertama (Gusti Jalma) dan mantan Sultan kerajaan Kubu (Syarif Hasan Al Idrus) menetapkan dan melantik Syekh H. Ismail Mundu sebagai seseorang yang lebih layak untuk dapat diberi kepercayaan (amanah) sebagai Hakim Mahkamah Kubu.

Strategi Da’wah Guru H. Ismail Mundu.
Wasiat Guru H. Ismail Mundu untuk memakmurkan masjid, merupakan salah satu bukti yang menunjukkan betapa besarnya kepedulian Guru H. Ismail Mundu terhadap da‟wah Islamiyah. Karena disadari bahwa Masjid adalah pusat da‟wah, di samping fungsi masjid sebagai tempat sujud.
Dalam pengembangan da‟wah, selain dilaksanakan di Masjid Nasrullah. Guru H. Ismail Mundu juga mengadakan majlis ta‟lim (tempat belajar) yang berlokasi di dekat pasar Teluk Pakedai. Mengingat lokasi tersebut lebih strategis dan mudah terjangkau oleh masyarakat luas dan banyak juga santri-santri Beliau yang datang dari luar daerah Teluk Pakedai. Pada saat ini majlis ta‟lim telah dijadikan sekolah agama (madrasah diniyah) dengan nama Madrasah H. Ismail Mundu. Terkadang, Guru Haji juga datang ke Pontianak untuk mengajarkan Ilmu Agama. pengkajian Agama yang diselenggarakan di kediaman Wak Kuda‟ Sungai Jawi Pontianak.
Adapun metode da‟wah yang digunakan oleh Guru H. Ismail Mundu di antaranya:
1) Metode Ceramah/Khutbah.
Ceramah adalah suatu teknik atau metode dakwah yang banyak diwarnai oleh ciri karakteristik bicara oleh seorang da‟I atau muballigh pada suatu aktivitas da‟wah. Metode ini sering digunakan oleh Guru H. Ismail, khususnya ketika memberikan nasehat-nasehat yang baik(mau‟idlotil hasanah). Seperti ketika khutbah Jum‟ah, perayaan peringatan hari besar Islam(PHBI) dan lain sebagainya.Guru Haji telah menyusun konsep Khutbah Jum‟ah selama satu tahun, mulai dari Khutbah bulan Muharram sampaidengan Khutbah Dzulhijjah. Konsep Khutbah Jum‟ah ditulis dengan menggunakan tulisan Arab Melayu. Tata aturan penulisan disesuaikan dengan rukun Khutbah, seperti Tahmid, Sholawat Nabi, Syahadat, Wasiat taqwa, Tilawah Qur‟an dan Do‟a untuk kaum Muslimin dan Muslimat.
Dalam memeriahkan da‟wah Islamiyah, Guru Haji Ismail Mundu menganjurkan para murid beliau, pada setiap tahun untuk membentuk panitia hari besar Islam (PHBI) yang bertanggung jawab menyelenggarakan peringatan
hari besar Islam. Oleh sebab itu, Alhamdulillah sampai saat ini dan Insya‟Allah sampai selama-nya di Masjid Nasrullah(batu) Teluk Pakedai, pada setiap tahun diselenggarakan PHBI, khususnya peringatan Isra‟ Mi‟raj di bulan Rajab dan Maulid Nabi SAW di bulan Rabi‟ul Awal. Selain mengajarkan Al-Qur‟an, Guru Haji Ismail Mundu juga senang membaca Shalawat Nabi Muhammad SAW baik dengan menggunakan lagu/syair atau tidak menggunakan lagu. Ada beberapa keutamaan yang dapat mendorong kita untuk senantiasa bersholawat kepada Nabi:
1. Allah S.W.T berfirman dalam Al-Qur‟an Surat Al-Ahzab : 56:
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّىْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَب أَ يُّهَب الَّذِيْهَ آمَنُىْا صَلُّىْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُىْا تَسْلِيْمًب.
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.
2. Rasulullah S.A.W. bersabda:
مَهْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَة صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْزًا وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْزُ خَطِيْئَبتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْزُ دَرَجَبتٍ .
Siapa bershalawat untukku satu kali niscaya Allah bershalawat (memberi rahmat) untuknya sepuluh kali dan dihapus dari padanya sepuluh kejahatan dan diangkat untuknya sepuluh deRajat”. (H.R. Muslim)
2) Metode tanya Jawab.
Tanya Jawab adalah penyampaian materi da‟wah dengan cara mendorong obyek dakwah untuk menanyakan suatu masalah yang dirasakan belum dimengerti. Sebagai seorang Mufti Kerajaan, maka tak jarang Guru H. Ismail ditanya dalam masalah agama baik oleh keluarga Raja maupun masyarakat „awam. Pertanyaan yang ditanyakan oleh masyarakat, dijawab oleh Guru Haji Ismail dengan bijaksana. Walaupun terkadang jawaban yang diberikan berupa isyarat-isyarat yang butuh penjelasan lebih lanjut.
3) Metode Uswah.
Metode Uswah ialah berdakwah dengan cara memperlihatkan suatu contoh yang baik, berupa ucapan, perbuatan dan penampilan. Guru H. Ismail Mundu menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan. Metode ini adalah metode yang paling sering dilakukan oleh Guru H. Ismail Mundu, karena sudah merupakan kepribadian beliau dalam keseharian. Ketawadlu‟an, kesederhanaan dan kebijaksanaan dalam berda‟wah menjadikan sosok Guru Haji Ismail Mundu sebagai figure yang layak dijadikan sebagai suri tauladan.

Kisah-Kisah Ajaib Guru Haji Ismail Mundu
Merupakan suatu kelaziman bagi setiap manusia yang senantiasa mendekatkan diri pada Allah SWT.(taqarrub ila Allah) yang dilandasi dengan iman dan ilmu serta amal sholeh, memperoleh karomah(kemuliaan) diri Allah SWT. Karomah hanya diberikan kepada orang-orang yang dikehendaki Allah SWT. Sehingga tidak setiap manusia bisa mendapatkan karamah. Pada ghalibnya karomah berupa peristiwa-peristiwa yang langka terjadi sehingga mengherankan (ajaib) dan seakan di luar batas kemampuan akal manusia pada umumnya.
Dalam kehidupan Guru Haji Ismail Mundu terjadi beberapa kisah yang dapat dikatakan ajaib, di antaranya:
1. Suatu saat Guru Haji bepergian dengan menggunakan sampan yang digayung oleh Wak Apell. Ia membawa anak kecil yang bernama Mekkah. Sebelum berangkat, Wak Apell mempersiapkan bekal makanan sekedarnya. Di tengah perjalanan Mekkah minta buah rambai. Guru Haji mencegahnya, seraya mengatakan nanti kita akan makan rambai dan panggang ayam di seberang. Dalam hati Wak Apell bertanya-tanya dari mana panggang ayam yang akan dimakan, padahal seingat Wak Apell, ia tidak membawa bekal panggang ayam. setelah sampan sampai di seberang, kajangpun diangkat, Ternyata tidak lama kemudian datanglah Wak Gani dari Punggur, membawa panggang ayam. Kejadian ini menakjubkan karena sebelum pergi, Wak Gani tidak pernah memberikan khabar kepada Guru Haji untuk
datang dan membawa panggang ayam, tetapi kenyataannya Guru Haji telah mengetahui apa yang dibawa oleh Wak Gani.
2. Suatu saat ada penjual tempoyak yang menghampiri Guru Haji, karena Guru Haji suka makan tempoyak, maka Beliaupun membeli tempoyak walaupun saat itu Guru Haji belum membawa uang. Kemudian Guru Haji menyuruh muridnya Haji Ibrahim untuk mengambilkan uang di kocek (saku) baju takwa Guru Haji. Setelah dicari berulang kali, Haji Ibrahim tidak menemukan adanya uang di saku. Lantas Wak Cong (kawan Haji Ibrahim) membodokan Haji Ibrahim dan menyarankan agar baju takwa diberikan kepada Guru Haji. Setelah yang mencari Guru Haji sendiri, ternyata ditemukan uang yang dipergunakan untuk membayar tempoyak. Atas kejadian tersebut Haji Ibrahim merasakan adanya keajaiban.
3. Sekitar tahun 1957 di Teluk Pakedai terjadi hama ulat yang menyerang pohon kelapa milik Tan Cog wa, iapun datang ke rumah Guru Haji untuk minta didoakan agar pohon kelapanya bebas dari hama ulat. Kemudian Guru Haji berdoa, atas izin Allah tidak lama kemudian datanglah sekelompok burung Perling yang merah matanya memakan ulat-ulat yang ada di pohon kelapa. Alhamdulillah, sampai saat ini pohon kelapa di Teluk Pakedai tidak diserang hama ulat. Dari kejadian tersebut, Tan Cog wa simpati terhadap kegiatan-kegiatan Islami yang diadakan oleh Guru Haji. Sehingga tak jarang Tan Cog wa mengikuti dan membantu dana agar kegiatan berjalan sukses. Bahkan anaknya diberi nama Abdul Hamid alias Tan Bukit. Sampai saat ini Tan Bukit masih mengikuti jejak orang tuanya.

Penutup
Pada akhir dari makalah ini, penulis barharap dapat merealisasikan “Sebaik-baik manusia adalah yang paling dapat berbuat manfaat bagi manusia lain”. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh para Salafus Sholeh. Seperti Guru Haji Ismail Mundu. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan taufiq dan hidayahNYA sehingga kita dapat memanfaatkan segenap potensi diri untuk mengabdi dan menebar kasih sayang di alam semesta ini. Wallahu a‟lam bil showab.

Rujukan
Azra, Azyumardi, 1999, Islam Reformis (Dinamika Intelektual dan Gerakan), Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, cetakan pertama. hlm.235
Lontaan, J.U., 1975, Sejarah Hukum Adat Dan Adat Istiadat Kalimantan Barat, Jakarta: Bumi Restu, Pemerintah Daerah Tingkat I Kalimantan Barat, edisi pertama. hlm. 229).
Muller, Karl, 1992, Indonesia Borneo, Periplus Editions, Singapura. hlm.31).
Nurcahyani, Lisyawati, 1997, Pendataan Sejarah Kertajaan Kubu Kabupaten Pontianak, Pontianak: Balai Kajian Sejarah Dan Nilai Ttadisional. ,hlm:7)
Sayyid Abdullah Idrus, 1969, Naskah Silsilah Kerajaan Kubu, Kucing Serawak, Malaysia.